Kawan-kawanku hadir dari segenap penjuru. Di Taman Kanak-Kanak aku mengenal Rolando, Nani, Merry, Iwan, dan masih banyak lagi nama yang kulupa. TK ku ini tak beda jauh dengan TK-TK yang lain (tapi bukan TK-TK para borjuis kecil itu lho) di Jakarta. Luas sekolah yang tak terlalu sempit, juga tak terlalu luas. Dengan warna cat tembok hijau muda disertai dengan coretan-coretan di dinding khas bocah kecil: gambar pemandangan yang absurd, bentuk-bentuk manusia aneh menurut khayal mereka (bahkan ada dulu kawanku yang bernama Memet yang hobi sekali menggambar ibu hamil), TK itu sangatlah ”TK”.
Setiap hari aku berangkat selalu diantar ibu naik sepeda. Dan seperti anak TK pada umumnya, aku selalu merengek ketika ibu pergi meninggalkanku. Tapi, ibu memang baik, ia selalu membungkam rengekanku dengan sepotong roti daging, dan sebotol teh manis yang sudah ia persiapkan sedari pagi. Lantas, ia pun berlalu begitu saja. Menyisakanku punggungnya yang menghilang dengan kayuhan sepeda yang kian lama kian menitik. Sejak saat itu, punggung bagiku seperti sebuah isyarat kesedihan. Sebuah sinyal yang menandakan bahwa ada yang hilang tersesap secara perlahan.
Di TK untuk pertama kalinya aku merasakan apa itu namanya disorientasi. Aku tak mengerti tujuanku kesana. Semua sibuk bernyanyi, bermain, menangis, bahkan ada yang buang hajat segala. Aku hanya sibuk berdiam diri. Melabuhkan diriku pada tembok hijau untuk menyender. Bosan sekali rasanya. Seringkali aku mengadukan hal tersebut pada ibu ketika hendak pulang. Terlebih bila aku melihat segerombolan orang berbaju warna merah putih. ”Aku ingin kaya gitu, bu!”, ujarku. Tetapi ibu hanya membalas dengan senyuman, ”belum waktunya, nak”, ibu hanya membalas demikian. Dan aku pun diam saja, menyuntuki diri karena tidak mengerti apa yang dimaksud ibu tadi.
Bulan demi bulan pun berjalan, ternyata ibu tidak sanggup lagi ”membungkamku” karena rengekanku dirasa terlalu sering memekakkan telinganya setiap hari. Ia pun memberanikan diri untuk mendaftarkanku ke Sekolah Dasar. Aih.. Senang sekali rasanya! Aku pun jadi anak SD. Walau belum cukup usiaku, tetapi Pak Rastim Rohadi, salah seorang guru yang ditemui ibu membantah hal tersebut. Dia berkata kalau usia bukan penghalang untuk menempuh pendidikan asal dirasa mampu. Aku sih tak mengerti kenapa ia berkata seperti itu. Tapi sekarang bangga juga aku, karena ternyata aku mampu bersekolah sebelum mencapai usia normal anak SD pada umumnya. Padahal mah’ bukan karena jenius, melainkan karena kepenatanku sudah sedemikian ereksi. Dan, sudah barang tentu, aku perlu lubang (lho)?!
(lagi…)