Dedicated For Uti..
* * * *
“Kawan, jika usia kelak meloncer kita sampai habis-habisan, jika tubuh seluruh, pehong lagi bengkok, hanya encok tinggal menentu kemudi, menyerah: sampai sini sajalah!“
* * * *
Dinda, kalau memang ada kesamaan pada kita, ialah: kita tahu bagaimana menjadi pesakitan.
“Dinda”, itulah nama yang kurayakan dulu. Namamu yang kupahat ketika mata ini beradu. Kau datang dari ketiadaan, datang dari Antah Berantah, dari dalam lubuk hati yang sedang telenggas oleh jalangnya perempuan yang dulu ku kenal. Kau datang memetik telenggas itu. Membakarnya lamat-lamat, kau tanam lagi jiwaku dengan serumpun unduhan senyum.
330 hari kita pernah bersama. Bersama dalam ikatan yang sampai ini detik tak kunjung padam, bersama dalam luka yang sama-sama kelam. Kau mengajariku apa itu kepastian. Kepastian untuk memilih dan yakin, bahwa hidup tak lebih dari omong kosong. Cinta tak lebih dari guyonan cabul kelas kakap. Cinta adalah laku yang tak pernah berhenti bergulir.
Dinda, ada banyak keluhan dalam setiap berkah, pikirku. Dan aku paling sering mengeluh akan hal ini. Mengeluh tentang kenapa aku memilki orangtua yang ganjil, mengeluh kenapa dengan seenak jidad kau dapat bertukar-ganti HP, motor, dan–ini yang memuakkan–laptop. Mengeluh kenapa Tuhan hanya berguna kalau takdir menyapa. Aku tidak pernah memiliki kesempurnaanmu itu, aku tak pernah memiliki keberanian untuk percaya pada kenyataan. Begitu banyak keluhanku padamu. Tetapi kau hanya memelukku, menggigit kecil tanganku lagi dengan segudang tanda tanya: seakan dengan melakukannya, kau dapat memberikan apa yang kupikir kesempurnaan.
Begitu banyak fragmen yang kau gelar padaku untuk memamah betapa arti kehidupan sangatlah surealis.
Malam tadi, sempurna sudah dendam bertukar. Kau membakarku, persis ketika satu malam dimana aku menghantarkanmu ke gerbang tangis. Persis di satu malam, ketika aku menikammu dengan kepalsuan yang melata. Aku menerimanya ulang tadi malam darimu. Apa yang sarkastik tempo lalu, tangisan yang kau gelar dulu, nasib yang tak kau percayai itu, hadir kembali. Tadi malam. Ya, tadi malam.
Betapa kesedihan ternyata dapat lindap dalam setiap penyesalan, Dinda. Tak ada jalan menuntun kebenaran selain kenyataan. Dan kau lagi-lagi saja memelukku, menggigit lenganku, seakan dengan itu kau memberikanku sebiji kesimpulan yang selama ini ngumpet: Kita dapat mengulang masa lalu.
Dinda, hari ini aku makin mengerti untuk apa Gie berujar: “Hidup adalah soal keberanian, soal tanda tanya yang tidak pernah kita inginkan. Terimalah. Hadapilah.” Ternyata ia benar: Keberanian menuntun orang untuk dapat menggelar hidup yang nyaris putus harap menjadi berkah.
Malam tadi di taman itu,entah keberapa kali, kau lagi-lagi saja memelukku, menghimpitku dengan ketiakmu, seraya menggigit kecil tanganku. Kali ini lebih keras, tentu saja.
waduh… ada apa ini? apa kutukan lagi berbalik, njul?
Komentar oleh zen — Juli 1, 2008 @ 9:45 am
huahaha…
Anda benar, untuk beberapa hari ini saya sedang menjadi orang Hindu, saya sedang mendalami karma..
Komentar oleh bulupantad — Juli 1, 2008 @ 10:03 am
ummm…..
gak tau mau comment pa an….
dy tampak “indah” dan “sempurna”…..
seperti itukah???
Komentar oleh jonggrang — Juli 3, 2008 @ 9:19 am