Kalau memang Jakarta hidup dan matiku
Maka itu tak mengapa, sebab ada engkau
Yang memilah
Menyesap
Menunggu
Menyatu
Hingga tiba kita melaju
Kalau memang Jakarta tempatku labuh
Itu akan lebih baik
Sebab ada engkau disana
Yang buatku kasmaran setiapnya
Buatku jatuh cinta sediakala
Dan sejak itu, aku tak perlu lagi berandai
Sebab ada engkau disana
Ada engkau disana
Ada engkau disana
* * * * * *
Aku tak perlu menjelaskan kenapa aku jatuh cinta. Ada banyak hasrat yang lahir ketika kita memulai untuk mencintai. Dan pada saat yang bersamaan, ada banyak pula ironi yang lindap. Aku sudah mengerti itu jauh-jauh hari. Tak ada lagi yang perlu diurai karenanya.
* * * * * *
Hari itu, tanpa pernah kita saling kenal sebelumnya, senja membiarkan kita sepakat untuk duduk di tubir pantai bersama. Hening. Basah. Sepoi angin dan desir ombak lebih menghanyutkan bagiku ketimbang memikirkan kata-kata apa yang akan kugelar untuk memulai percakapan denganmu. Hampir 20 menit kita diam dalam tanda tanya. Hingga kesabaran tampaknya tak lagi punya batas.
“Kulihat kau suka sekali melihat langit. Ada apa memang dengannya?”
Aku ingat petuah seorang kawan: “Kau harus sok tahu bila ingin membuka percakapan dengan seorang wanita yang kau sukai.”
“Tidak juga. AKu hanya bingung apa yang harus aku lakukan disini.”
Bak ditinju bogem mentah jutaan kali mendengar jawabnya.
“Ooo.. Jadi ternyata kau mengharapakan sebuah percakapan denganku?”
Ia menoleh dengan dahi yang terlipat.
“Menurutmu? Kau kan yang merayuku kesini, lantas buat apa kalau aku hanya kau diamkan?”
Mendengar kata “merayu” dari mulutnya aku tersenyum kecil. Ternyata tak salah kalau banyak orang mengatakan bahwa wanita memang hidup dengan rayuan lelaki.
“Aku jadi semakin mengerti. Ternyata kau sedari tadi memang menunggu untuk mengobrol denganku.”
“Terserahlah!”
Lipatan di dahinya makin kentara.
Dia terus diam. Dan aku juga terus bingung. Dalam momen seperti ini, penting bagiku untuk merokok. Sialnya, dia tak suka lelaki perokok! Hingga beberapa menit akhirnya kugelar percakapan lagi.
“Kau tahu, baru beberapa tahun belakangan ini saja aku sadar bahwa senja memang indah. Ombak memang cantik. Keduanya memang serasi, dengan temaram malam sebagai segelas anggurnya. Tapi aku jarang dapat menikmatinya. Terlebih bila bersama dengan seorang wanita.”
Ia menoleh kembali. Tapi tidak dengan dahinya yang terlipat. Dengan senyuman.
“Aku tidak menyukai senja. Senja bagiku seperti sebuah momen dimana segala harap menjadi punah. Sebab ia hanya menghadirkan matahari yang terlelap. Malam yang gelap. Dan sepi, juga muram. Bagiku, subuhlah waktu yang lebih tepat untuk menikmati hari. Ketika matahari dengan gagah membangunkan kita dengan sebuah harap yang selalu baru, tiada tuntas. Seakan ia datang hanya untuk kita. Persis ketika kau merasakan bagaimana seseorang datang menjemputmu untuk kemudian mengajakmu memukuli seseorang. Ada tantangan yang lahir. Kita tidak menerima khayalan ketika matahari terbit.”
Aku terdiam dengan khitmad.
“Bagaimana menikmati matahari terbit?”
“Terima tantangannya! Hadapi tanda tanya yang disemburkannya ke jendela kamarmu. Tidak seperti senja yang hanya menghadirkan sebiji ekstase. Membuat manusia hanya termangu, berharap ada skenario romantis yang hadir pada saat bersamaan.”
Ia tetap mengahadap kelaut. Tampaknya senja pernah melukainya. Aku masih tak mengerti. Dan terus terang, aku setengah mengabaikannya. Perhatianku lebih tertuju pada gerai rambut yang menutupi separuh wajahnya. Nyiur sekali menatapnya. Sampai satu ketika…
“Kau tahu apa yang paling menyakitkan?”
“Dalam hal apa?”
“Apa saja dalam hidupmu.”
“Apa ya? Hmm… Miskin? Mengalami kelainan seks? Divonis mati? Apa dong? Banyak sekali versi menyakitkan tentang hidup menurutku. Tak bisa kupilih. Apalagi kuterka. Karena aku tak pernah yakin ada manusia yang dapat memilih hal apa yang paling menyakitkan baginya.”
Senyum kembali menyimpul bibirnya.
“Ketika kau tak lagi percaya pada harapan. Itulah hal yang paling menyakitkan. Ketika satu waktu kau percaya, bahwa kau tak pernah lagi percaya pada anugerah, motivasi, doa, tapi kau tetap meyakini Tuhan sebagai pemberi harap.”
* * * * * *
Disini, kembali di tubir pantai, aku menyadari apa yang kau katakan 3 tahun lalu. Kaulah perempuan yang padamu aku tersadar: bahwa ada saat dimana segala doa dan asa lebur dalam kuasa takdir. Tak lagi punya makna. Dalam persinggungan seperti itu aku hanya dapat meratapi ironi tanpa pernah diberi kesempatan sekali pukul.
3 tahun lalu kau pergi tanpa jejak. Meninggalkanku sendirian dipinggir liang. Tak pernah lagi datang. Kau pergi dengan putus harap. Dengan unduhan tangis yang meratap. Dengan ketidakadilan yang kekal. Dengan perih yang tak tertahankan. Dengan kanker yang menggerogoti otak.
3 tahun lalu pula kau disini bersamaku. Menikmati fajar yang bangun selaksa gundam raksasa. Kau berlari kesana kemari. Mengajakku membasahi tubuh dengan laut yang tak pernah surut. Tertawa lepas. Padahal aku dan kau tahu, bahwa sebentar lagi Izrail datang menjemputmu dariku. Kau tak peduli, karena kau sadar, kecintaanmu pada fajar tak bisa kau lawan, sebagaimana kanker keparat yang melabelimu sebagai pesakitan.
Disini pula, tepat 3 tahun yang lalu, kau kembali berkata padaku:
“Nikmatilah kematian. Karena kematianlah yang membuatmu sadar bahwa cinta tak lagi hanya sebuah laku paradoks. Kematianlah yang membuat kau sadar akan kekekalan. Dan sejak kematian berkenalan denganmu, maka sejak saat itu pula sadar, apa guna mencintai dan dicintai.”
Maka memang benar, sejak saat itu pula aku mengerti kenapa kau lebih memilih fajar ketimbang senja. Karena fajarlah satu-satunya harapan yang bisa kau unduh. Kau gapai. Tentang bagaimana menghadapi dunia ini dengan lantang, walau setiap kita menghadapinya, kita hanya menjadi seekor sisifus, lemah tak berdaya.
Dan kau membuktikannya pada 3 tahun lalu.
Selama itu pula aku akan yakin untuk selamanya: kau tak pernah meninggalkanku.
* * * * * *
……
Maka itu tak mengapa, sebab ada engkau
Yang memilah
Menyesap
Menunggu
Menyatu
Hingga tiba kita melaju