Apa yang kupikirkan sekarang disana, Sha? Telah selang 4 tahun kau pergi meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dengan seonggok kesedihan yang entah kapan berujung. Sedang apa kau disana, Sha?
Kau ingat, tanggal inilah nafasmu terlantun merdu untuk terakhir kali. Begitu pula dengan doa yang kusulurkan untukmu. Ditelingamu kubisikan sebait cinta, dengan lelehan air mata yang sendu. Dengan senyuman yang palsu. Dengan rintihan tentang apa itu rasanya tidak percaya: kau pergi meninggalkanku. Tepat hari ini, Sha.
Disini, dalam hati, masih segar kuingat bagaimana bulan sabit mengghadiahi kita sebingkis kado romantis.
* * * * * *
Seperti senja-senja yang banyak hadir dipantai. Kala itu senja begitu kilau. Matari meranum. Ombak-ombak bersahutan. Kita berdua di tubir panta senja itu. Menyimak dengan khitmad, bagaimana matari perlahan pergi. Berganti dengan bulan sabit yang lancip yang datang dari antah berantah.Dan langit mulai berubah gelap. Dingin kian sesap.
Lambat laun kita pun menjadi semakin mesra. Semakin intim dengan tawa. Kekakuan diawal perkenalan tadi pun lantas surut. Kau jadi sering mengulum senyum. Dan gara-gara senyummu tersebut, maka lahirlah sebuah analogi dariku:
“Coba ambil cermin dari dalam tasmu. Tersenyumlah dan lantas lihat kebulan sabit diatas.”
Kau bingung untuk beberapa detik. Masih tak mengerti apa maksud yang kupinta padamu barusan. Aku masih tersenyum kecil melihat wajah dungumu yang lambat untuk mencerna maksudku.
“Begini” Kataku padamu. Aku mendekat padamu. Kapagut wajahmu dengan 4 buah jariku. Kuhadapkan wajahmu kewajahku. Kutarik pelan bibirmu agar membentuk sesimpul senyum. Lantas…
“Kau lihat kecermin sekarang. Dan kau lihat kelangit setelahnya”
“Sudah. Terus apa hubungannya dengan bulan sabit?”
Kedunguanmu makin buatku gemas. Karena fragmen romantic yang kuharap hadir malam itu malah terhambat karena keterlambatanmu dalam mencerna maksudku.
“Duh.. Kamu ini. Maksudku itu, senyummu memiliki bentuk yang sama dengan bulan sabit. Keduanya memiliki bentuk elips yang nyaris sempurna. Kau pasti senang kan kupuji gini?”
“Ooo.. Aku mengerti. Tapia pa? Aku senang dipuji? Huh..Tanpa kau pujipun aku sudah mengerti kalau bentuik bibirku memang indah”
Kau tertawa lepas. Selepas camar yang hilir mudik menyinggahi kemana angin pergi. Bibirmu yang cantik itu terus kau pegang. Seakan kau takut bulan sabit mencemburui bentuk bibirmu itu.
Aku kembali mendekatimu. Merangkulmu. Kau pun begitu. Sejenak aku menoleh padamu. Menyibak rambutmu yang tergerai karena hembusan angin malam yang merangkak dalam diam. Dingin makin magkak. Dalam beberapa detik aku kembali memagut bibirmu. Kali ini, dengan bibirku, tentu saja.
Ternyata adegan romantis yang kuharap tergelar malam ini hadir sungguhan.
* * * * * *
Disini, di dalam hati, aku masih ingat bagaimana kemesraan kita yang tergelar malam itu. Aku masih ingat bagaimana dengan tuntas aku menlumat habis bibirmu. Seraya membiarkan kau bersandar ke ketiakku.
Aku masih ingat itu.
Kini aku tahu, bagaimana kekekalan yang kau maksud. Kekekalan yang tiada henti merujam habis detik demi detik detak jantungku. Kekekalan tentang kau yang mungkin aku bawa hingga habis pedih perih. Disini aku mendoakanmu, Sha. Kau tak perlu takut aku terbenam dalam kesedihan. Aku tak perlu itu. Sebab aku tahu kau ada disini. Sekarang. Dan membisikkan kata-kata itu:
““Nikmatilah kematian. Karena kematianlah yang membuatmu sadar bahwa cinta tak lagi hanya sebuah laku paradoks. Kematianlah yang membuat kau sadar akan kekekalan. Dan sejak kematian berkenalan denganmu, maka sejak saat itu pula sadar, apa guna mencintai dan dicintai.”