“Biar kukatakan apa yang akan dan tidak akan kulakukan. Aku tidak akan menuruti apa-apa yang tidak lagi kupercayai, biarpun ia menyebut diri rumahku, ibu pertiwiku, atau gerejaku: dan akan kucoba mengungkapkan diri dengan gaya hidup atau gaya berkesenian sebebas yang kubisa dan setotal yang kubisa, sambil menggunakan satu-satunya senjata yang akan kuijinkan bagi diriku sendiri—diam diri, pengasingan, dan kecerdikan.”
Kata-kata itu tertulis dalam novel berjudul A Potrait of the Artist as a Young Man. Sebuah novel dari seorang sastrawan kelahiran Rathgar, Dublin, Irlandia, 2 Februari 1882. Ia adalah salah seorang novelis jenius yang pernah dilahirkan peradaban barat. Ia juga merupakan salah seorang pelopor prosa modern yang memiliki andil besar dalam melebarkan sayap teknik menulis dalam sastra, untuk kemudian banyak menerbitkan novelis serta pemikir-pemikir kontemporer lainnya: stream of consciousness (arus kesadaran).
Membaca novel ini, secara tersirat kita dapat memahami bagaimana alur kesadaran itu diterapkan. Penerapan stream of consciousness hadir dengan jelas pada tata cara penggunaan bahasa yang dipakainya. Untuk episode pertama, dua lembar terdepan A Portrait of the Artist as a Young Man, yang mengisahkan sebuah momen di masa balita Stephen Dedalus, ia menggunakan kalimat-kalimat yang sesederhana mungkin guna mendapatkan sense seorang balita yang seolah sedang bercerita. Bagian selanjutnya, dimana Stephen Dedalus menggenapi usia kanak-kanak, ia menggelar banyak diksi sederhana dan kontruksi kalimat yang tak putus-putus. Hal ini dipergunakannya, karena kita tahu, anak kecil selalu berbicara tanpa henti, selalu menyampaikan jutaan hal yang seakan tidak pernah tuntas.
Dalam novelnya yang lain, Dubliners, ia memelopori teknis penulisan naratif baru, yang nanti pada saat matang berwujud sebagai stream of consciousness. Ia menyusun Dubliners sebagai suatu bentuk gagasan ideal. Dalam suratnya pada Grant Richards, penerbit pertama Dubliners, ia dengan jelas menyebutkan maksud dan desain cerita-cerita tersebut:
“Maksud saya adalah menulis suatu bab tentang sejarah moral negeri saya, dan saya memilih Dublin tempat karena kota itu bagi saya tampak sebagai pusat kelumpuhan (paralysis). Saya sudah mencoba menghadirkannya pada orang awam biasa dalam keempat aspeknya: masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kehidupan umum. Cerita itu diatur dalam susunan tersebut. Dalam banyak bagian, saya menulis cerita itu dalam gaya ketelitian yang amat sangat dan dengan keyakinan bahwa dia adalah seorang lelaki amat hebat yang berani berubah pada suatu keberadaan, apalagi merusakkan, apa pun yang pernah dilihat dan didengarnya.”
Perhatiannya terhadap kronologi dan perbedaan usia memperlihatkan pentingnya keteraturan bagi dirinya dalam karya-karya yang ia buat. Sebutan terhadap paralysis menandai adanya suatu tema dominan dalam Dubliners, yang nanti berulang dalam seluruh karya-karya berikutnya: kelumpuhan hati dan pikiran orang Dublin dan seluruh aspek masyarakat Irlandia yang tergelar dari momen-momen sederhana yang secara scrupulous meanness dikelupasi selapis demi selapis olehnya. Ia menegaskan kejadian-kejadian ini sebagai momen ”penyingkapan keapaan suatu kejadian”.
Stream Of Consciousness: Sebuah Monolog Kesadaran
Arus kesadaran atau yang dikenal dengan stream of consciousness merupakan bentuk penguakan alam bawah sadar dalam teknik penulisan sastra: Ia mencoba mengeluarkan yang di dalam jiwa manusia menjadi sesuatu yang terdefinisikan dan terjelaskan. Si penulis hendak mengeluarkan yang “di dalam” melahirkan begitu banyak aliran pengungkapan, yang pada akhirnya juga cara pandang terhadap hidup ini sendiri.
Kisah Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway, berhasil merepresentasikan bagaimana arus psikologi seorang nelayan yang telah berlayar selama 84 hari tanpa mendapatkan apapun. Hemingway dengan begitu jenial menggambarkan bagaimana perjuangan tokoh nelayan yang berhasil membuktikan bahwa dirinya masih nelayan yang boleh diperhitungkan dengan berhasil mengalahkan seekor ikan marlin besar.
“Mereka mengalahkanku, Manolin,” kata lelaki tua itu. “Mereka benar-benar mengalahkanku.” Ujar si nelayan.
Dengan menghanyutkan diri kepada arus psikologi sang tokoh , Hemingway berhasil menggambarkan sepresisi mungkin bagaimana kegigihan si nelayan dalam mempertaruhkan nasibnya. Ini merupakan bentuk monolog interior: sebuah pengungkapan masalah psikologi dalam diri sendiri dengan bahasa sendiri. Kant mengkategorikan hal ini dengan sebutan: hal yang adanya di dalam segala sesuatu, tak terindera.
“Aku orang sakit … aku seorang yang terkutuk. Lelaki yang tak menarik. Hatiku sakit. Sebenarnya, aku tak tahu apa-apa mengenai sakitku, dan tak yakin apa yang menyebabkan sakit.”
Bagian pembuka yang cukup populer dari Catatan dari Bawah Tanah, karya Fyodor Dostoyevsky diatas memperlihatkan pada kita bagaimana monolog interior si tokoh yang “sakit” dalam mengungkapkan bagian dalam dirinya sendiri. Meskipun selalu ada kesan ia bicara kepada seseorang yang lain, katakanlah pembaca, sesungguhnya ia sedang bicara kepada dirinya sendiri.
Dialog batin atau stream of consciousness tidak melulu hadir dalam sastra, ia juga dapat hadir dalam sinematografi. Sineas asal Paris angkatan Nouvelle Vague (New Wave), Eric Rohmer dengan filmnya The Bakery Girl of Monceau menggelar banyak momen dengan memusatkan monolog interior pada kekuatan dialog guna menguak karakter dan drama yang mengikutinya. Ia menilik dengan intens bagaimana dunia kejiwaan tokoh-tokohnya secara detil. Film yang bertemakan tentang kisah percintaan remaja tanggung ini bercerita tentang kegelisahan seorang pria dalam mencari seorang gadis yang pernah sekali waktu ia kencani. Pertanyaan-pertanyaan yang membatin seringkali hadir dalam kegelisahan berikut tanda tanya si pria. Dengan ciamik, Rohmer mengolah monolog interior dalam jiwa si pria.
Dalam novel Faulkner, kita bertemu kisah yang mencoba masuk dan keluar diri manusia, melalui narasi pencerita. Faulkner tak membatasi diri dengan tindakan- tindakan, tapi juga membiarkan naratornya melantur. Sejenis monolog interior, tapi tidak diucapkan tokohnya, melainkan diucapkan oleh naratornya. Di dalam novelnya yang paling inovatif, Saat Aku Telentang Mati, kita melihat para tokohnya bicara sendiri-sendiri. Bahkan si orang mati, Nyonya Bundren, juga bicara. Tidak dalam monolog interior, tapi justru sebagai narator mengisahkan yang lainnya.
“Ketika Gregor Samsa terbangun di suatu pagi dari mimpi buruk, ia menemukan dirinya berubah di tempat tidur menjadi seekor serangga besar.”
Metamorfosa Franz Kafka diatas menunjukkan pada kita bagaimana serangkaian aksara diinterpretasikan lewat sebuah mimpi yang maujud ke dalam teks. Kafka menjadikan psikoanalisa menjadi interpretasi tersebut: mimpi dipercaya bisa menguak apa yang bersemayam di alam bawah sadar. Tentu tidak dengan menceritakan mimpi yang sesungguhnya, tapi justru menjadikan novel sebagai mimpi itu sendiri. Metamorfosa, bagi Kafka merupakan kisah mengenai ketakutan, tentang kepenatan, tentang beban, tentang depresi, yang muncul dalam sejenis mimpi.
Realisme magis merupakan bentuk sastra kontemporer yang merayakan mimpi ini. Dalam Tumbangnya Seorang Diktator, Gabriel Garcia Marquez tak hanya menguak bawah sadar seorang penguasa, tapi juga sebuah bangsa. Dengan kata lain, psikologi massa. Novel itu tidak ditulis dalam bentuk monolog interor di mana sang diktator mengisahkan dirinya, tidak pula dengan menampilkan fenomena yang tampak, baik dalam bentuk aksi-aksi maupun narasi. Novel ini, dalam bentuknya sendiri, menyiratkan mimpi yang melantur sendiri. Tapi dengan cara itulah kita mencoba melihat watak tokoh-tokoh yang muncul. Novel ini ditulis dengan kalimat-kalimat panjang yang melelahkan, seolah pembaca menghipnotis sang penulis, dan penulis melantur nyaris tanpa pola.
Sang Kanonik Yang Lumpuh
Membicarakan sastrawan ini berarti membicarakan sebuah paradoks yang menarik. 4 dekade setelah kematiannya (ia meninggal pada 1941) sebanyak lebih dari 7.500 kajian disusun perihal lelaki ini. Banyak tahbis digelar yang tersemat padanya. Profesor humaniora dari Yale University, Harold Bloom, bahkan berani mengatakan lelaki inilah yang dengan begitu brilian menuntaskan benih-benih yang disebarkan oleh Shakespeare. Bloom juga menandaskan, bahwa karya-karyanya telah menyalip dari kiri karya-karya pujangga klasik macam Dante, Milton, dan Cervantes.
Saat usianya memasuki 22 tahun, ia mulai mencintai seorang perempuan: Nora Barnacles. Percintaannya dengan Nora inilah yang menjadi cikal bakal magnum opus sang sastrawan: Ullyses. Kedua sejoli itulah yang menjadi tokoh novel tersebut, sang sastrawan sebagai Leopord Bloom dan Nora Barnacles sebagai Bloom Molly.
Ulysses adalah kisah tiga orang biasa di Dublin yang sedang menghabiskan malam. Momen-momen sederhana yang hadir diantara 3 tokoh (Stephen Dedalus ,Leopold Bloom dan Bloom Molly) berikut gaya penulisan yang cenderung eksperimental dan mendobrak digelar demi melawan mainstream sastra kala itu: melulu muram, miskin ide, dan cenderung kolot. Proses kreatif ini ditanggapi oleh Sigrid Loffler, seorang kritikus sastra asal Austria di majalah sastra Jerman Literaturen (edisi 6 Juni 20040). Ia menyebut, sang sastrawan tidak mengandalkan fantasi, melainkan ingatan. Pendapat Loffler dibenarkan oleh Klaus Reischert, seorang profesor dari Universitas Frankfurt. Reischert bilang, sang sastrawan dalam menulis lebih mengutamakan remembering dan recollecting. Ia mengumpulkan peristiwa yang kecil-kecil, lalu dia himpun menjadi kanon aksara ke dalam Ulysses. Di bagian akhir, sang sastrawan memasukkan unsur monolog interior dalam menggambarkan dunia “dalam” pikiran Bloom, si tokoh, untuk menyebut contoh lain. Cerita tidak digambarkan melalui aksi dan petualangan secara fisik, tetapi justru apa yang bermain di “dalam”, dan plotnya dibuat mengikuti arus kesadaran
Ullysess dituntaskannya di Zurich, Switzerland pada 1922. Dalam hitungan hari, novel tersebut laku keras dipasaran. Tetapi tidak di Amerika Serikat dan Inggris. Kedua negara tersebut mencap Ullysess sebagi novel yang penuh dengan dramaturgi seksualitas. Sebagian kisah yang ditulisnya dianggap terlalu mengeksplorasi secara berlebihan pengalaman seks seseorang. Akan tetapi, tidak demikian halnya di Prancis. Di sana, para penggemar sekaligus kawan-kawan dekatnya beramai-ramai merayakan hari terbitnya Ullysess tiap 16 Juni.
Novel yang terinspirasi dari novel Odyssee karya sastrawan purba, Homer ini, serta novel yang memiliki dialog superpanjang tanpa memakai satu tanda baca sepanjang 42 halaman ini pada akhirnya ditahbiskan menjadi novel terbaik pada abad ke 20. Dan ia pun telah menjadi seorang penulis terkenal. Akan tetapi, karirnya tidak berimbas terhadap perekonomiannya: ia tetap hidup melarat. Hal ini lebih dikarenakan banyaknya penipuan dalam bentuk pencetakan ilegal novelnya. Ia pun juga mengalami gangguan penglihatan. Suratnya pada Nora pada 15 Juni 1904 mengatakan:
“Aku mungkin buta. Aku amati lama sekali sebuah kepala dengan rambut warna merah kecoklatan dan aku yakin, bukankah itu dirimu. Aku pulang sempoyongan. Aku sebenarnya ingin membuat pertemuan baru lagi, tapi mungkin kurang tepat untukmu. Aku harap, kau tetap ramah padaku. Semoga kau tidak melupakanku.”
Akhirnya, pada 13 Januari 1941 ia meninggal setelah menderita infeksi perut yang berkepanjangan dan tak kunjung sembuh. Ia dimakamkan di pemakaman umum Fluntern, Swiss. Di nisannya yang berwarna abu-abu tertulis kata-kata:
James Augustine Aloysius Joyce
Dublin:2.II.1882, Zürich: 13.I.1941.
Rest In Peace.
Eh, Kamu beneran mau passing out dari kul n EKSPRESI njul? Yah sedih deh………
Komentar oleh yandri — September 27, 2008 @ 5:16 pm