Bingung. Itulah yang kualami sekarang. Disorientasiku sudah akut, aku sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Hanya lamunan tolol dan khayalan murahan yang hilir mudik dikepalaku. Televisi, salah satu alat yang kupercaya untuk menghibur ke-disorientasi-an-ku ternyata hanya jadi malapetaka. Membuat mercusuar kemuakan yang tiada lagi bisa tertolong.
Uughhh.. Padahal sekarang Bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah, yang tersucikan. Tapi tampaknya berkah masih menjadi barang antik bagiku. Tak apalah, aku tak mau berharap berkah itu datang terlalu cepat.
Seringkali untuk membunuh ini penat, aku mengitari Jakarta. Hinggap dari 1 rumah kawan, kerumah yang kawan yang lain. Begitu seterusnya. Berharap ada sesuatu yang baru. Berharap berkah datang dengan sesuatu yang bisa dengan tepat sasaran membunuh kegelisahanku. Pada fragmen-fragmen perjalanan itu, berkah tampaknya memang hadir. Bukan berkah mukjizat nabi-nabi. Bukan pula berkah di malam Lailtul Qadar. Bagiku berkah ini seperti elegi. Seperti rumah maujud yang begitu nestapa. Berkah yang terpendar lewat sebuah visualisasi kenyataan yang kelam.
Berkah, yang awalnya bagiku sebuah senyum yang memesona, ternyata hadir lewat bentuknya yang muram. Ia menjadi l’autri ketika diharapkan untuk datang sebagai sesuatu yang sudah kita kenal dengan sangat mesra. Ia adalah sebuah penanda bahwa manusia tak bisa menjadi tuan atas dirinya sendiri. Seakan ia hadir hanya untuk membuyarkan impian. Aku takjub dengan kuasa Tuhan ketika mengetahui berkah juga punya wajah lain.
Di setiap lampu merah berkah itu datang. Di pinggir rel kereta berkah itu hinggap. Di pelataran terminal berkah itu lindap. Di gubuk-gubuk reot pinggir kali tempat lendir jadi barang transaksi 2 manusia, berkah itu muncul. Ternyata, ada banyak berkah di Jakarta ini. Tentu saja, bukan ini berkah yang kita kenal dalam petuah-petuah agama.
Dengan berkah yang tergelar ditempat-tempat itulah aku kemudian menyadari apa itu arti berharap. Betapa aku merasa tak perlu menyudutkan diri untuk murung, layu, karena keadaanku yang sekarang begitu menyedihkan. Aku mulai sadar, ternyata ada jutaan manusia diluar sana yang begitu dibenci oleh berkah, begitu tak disukai oleh waktu. Disiksa oleh takdir. Yang tak pernah percaya pada harapan, tetapi dilain sisi mereka sadar dan percaya bahwa Tuhan ialah Sang Maha Pemberi Harap.
”Hidup harus berlanjut” pikirku. Setidaknya bila pada akhir episode nanti aku masih tak mengerti untuk apa aku hidup, toh tak apa. Aku percaya masih ada ruang sisa untuk meletakkan dimana empati berada. ”Life for nothing” begitu kata Gie. Nikmat juga, ternyata. Mungkin itu berkahku.
Dan dari sisa-sisa keputusasaan sekarang ini, aku akan memulai. Apakah ini berkah?
Tak ada gunanya dijawab.