GUERILLA WARFARE

Oktober 22, 2008

ME #1

Filed under: 1 — bulupantad @ 3:25 am

Kawan-kawanku hadir dari segenap penjuru. Di Taman Kanak-Kanak aku mengenal Rolando, Nani, Merry, Iwan, dan masih banyak lagi nama yang kulupa. TK ku ini tak beda jauh dengan TK-TK yang lain (tapi bukan TK-TK para borjuis kecil itu lho) di Jakarta. Luas sekolah yang tak terlalu sempit, juga tak terlalu luas. Dengan warna cat tembok hijau muda disertai dengan coretan-coretan di dinding khas bocah kecil: gambar pemandangan yang absurd, bentuk-bentuk manusia aneh menurut khayal mereka (bahkan ada dulu kawanku yang bernama Memet yang hobi sekali menggambar ibu hamil), TK itu sangatlah ”TK”.

Setiap hari aku berangkat selalu diantar ibu naik sepeda. Dan seperti anak TK pada umumnya, aku selalu merengek ketika ibu pergi meninggalkanku. Tapi, ibu memang baik, ia selalu membungkam rengekanku dengan sepotong roti daging, dan sebotol teh manis yang sudah ia persiapkan sedari pagi. Lantas, ia pun berlalu begitu saja. Menyisakanku punggungnya yang menghilang dengan kayuhan sepeda yang kian lama kian menitik. Sejak saat itu, punggung bagiku seperti sebuah isyarat kesedihan. Sebuah sinyal yang menandakan bahwa ada yang hilang tersesap secara perlahan.

Di TK untuk pertama kalinya aku merasakan apa itu namanya disorientasi. Aku tak mengerti tujuanku kesana. Semua sibuk bernyanyi, bermain, menangis, bahkan ada yang buang hajat segala. Aku hanya sibuk berdiam diri. Melabuhkan diriku pada tembok hijau untuk menyender. Bosan sekali rasanya. Seringkali aku mengadukan hal tersebut pada ibu ketika hendak pulang. Terlebih bila aku melihat segerombolan orang berbaju warna merah putih. ”Aku ingin kaya gitu, bu!”, ujarku. Tetapi ibu hanya membalas dengan senyuman, ”belum waktunya, nak”, ibu hanya membalas demikian. Dan aku pun diam saja, menyuntuki diri karena tidak mengerti apa yang dimaksud ibu tadi.

Bulan demi bulan pun berjalan, ternyata ibu tidak sanggup lagi ”membungkamku” karena rengekanku dirasa terlalu sering memekakkan telinganya setiap hari. Ia pun memberanikan diri untuk mendaftarkanku ke Sekolah Dasar. Aih.. Senang sekali rasanya! Aku pun jadi anak SD. Walau belum cukup usiaku, tetapi Pak Rastim Rohadi, salah seorang guru yang ditemui ibu membantah hal tersebut. Dia berkata kalau usia bukan penghalang untuk menempuh pendidikan asal dirasa mampu. Aku sih tak mengerti kenapa ia berkata seperti itu. Tapi sekarang bangga juga aku, karena ternyata aku mampu bersekolah sebelum mencapai usia normal anak SD pada umumnya. Padahal mah’ bukan karena jenius, melainkan karena kepenatanku sudah sedemikian ereksi. Dan, sudah barang tentu, aku perlu lubang (lho)?!
(more…)

Iklan

HIDUP TANPA UNTUK MENJADI APAPUN

Filed under: Menulis, itu saja — bulupantad @ 2:56 am

Bingung. Itulah yang kualami sekarang. Disorientasiku sudah akut, aku sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Hanya lamunan tolol dan khayalan murahan yang hilir mudik dikepalaku. Televisi, salah satu alat yang kupercaya untuk menghibur ke-disorientasi-an-ku ternyata hanya jadi malapetaka. Membuat mercusuar kemuakan yang tiada lagi bisa tertolong.

Uughhh.. Padahal sekarang Bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah, yang tersucikan. Tapi tampaknya berkah masih menjadi barang antik bagiku. Tak apalah, aku tak mau berharap berkah itu datang terlalu cepat.

(more…)

Agustus 27, 2008

Sebuah Potret Binar Monolog Kesadaran

Filed under: 1 — bulupantad @ 7:23 am

“Biar kukatakan apa yang akan dan tidak akan kulakukan. Aku tidak akan menuruti apa-apa yang tidak lagi kupercayai, biarpun ia menyebut diri rumahku, ibu pertiwiku, atau gerejaku: dan akan kucoba mengungkapkan diri dengan gaya hidup atau gaya berkesenian sebebas yang kubisa dan setotal yang kubisa, sambil menggunakan satu-satunya senjata yang akan kuijinkan bagi diriku sendiri—diam diri, pengasingan, dan kecerdikan.”
Kata-kata itu tertulis dalam novel berjudul A Potrait of the Artist as a Young Man. Sebuah novel dari seorang sastrawan kelahiran Rathgar, Dublin, Irlandia, 2 Februari 1882. Ia adalah salah seorang novelis jenius yang pernah dilahirkan peradaban barat. Ia juga merupakan salah seorang pelopor prosa modern yang memiliki andil besar dalam melebarkan sayap teknik menulis dalam sastra, untuk kemudian banyak menerbitkan novelis serta pemikir-pemikir kontemporer lainnya: stream of consciousness (arus kesadaran).
Membaca novel ini, secara tersirat kita dapat memahami bagaimana alur kesadaran itu diterapkan. Penerapan stream of consciousness hadir dengan jelas pada tata cara penggunaan bahasa yang dipakainya. Untuk episode pertama, dua lembar terdepan A Portrait of the Artist as a Young Man, yang mengisahkan sebuah momen di masa balita Stephen Dedalus, ia menggunakan kalimat-kalimat yang sesederhana mungkin guna mendapatkan sense seorang balita yang seolah sedang bercerita. Bagian selanjutnya, dimana Stephen Dedalus menggenapi usia kanak-kanak, ia menggelar banyak diksi sederhana dan kontruksi kalimat yang tak putus-putus. Hal ini dipergunakannya, karena kita tahu, anak kecil selalu berbicara tanpa henti, selalu menyampaikan jutaan hal yang seakan tidak pernah tuntas.
Dalam novelnya yang lain, Dubliners, ia memelopori teknis penulisan naratif baru, yang nanti pada saat matang berwujud sebagai stream of consciousness. Ia menyusun Dubliners sebagai suatu bentuk gagasan ideal. Dalam suratnya pada Grant Richards, penerbit pertama Dubliners, ia dengan jelas menyebutkan maksud dan desain cerita-cerita tersebut:
(more…)

Aku Tahu Kau Tak Kemana, Sha

Filed under: 1 — bulupantad @ 7:18 am

Apa yang kupikirkan sekarang disana, Sha? Telah selang 4 tahun kau pergi meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dengan seonggok kesedihan yang entah kapan berujung. Sedang apa kau disana, Sha?

Kau ingat, tanggal inilah nafasmu terlantun merdu untuk terakhir kali. Begitu pula dengan doa yang kusulurkan untukmu. Ditelingamu kubisikan sebait cinta, dengan lelehan air mata yang sendu. Dengan senyuman yang palsu. Dengan rintihan tentang apa itu rasanya tidak percaya: kau pergi meninggalkanku. Tepat hari ini, Sha.

Disini, dalam hati, masih segar kuingat bagaimana bulan sabit mengghadiahi kita sebingkis kado romantis.

(more…)

Agustus 25, 2008

Kau Tak Perlu Senja, Sha

Filed under: Menulis, itu saja — bulupantad @ 10:51 am

Kalau memang Jakarta hidup dan matiku

Maka itu tak mengapa, sebab ada engkau

Yang memilah

Menyesap

Menunggu

Menyatu

Hingga tiba kita melaju

Kalau memang Jakarta tempatku labuh

Itu akan lebih baik

Sebab ada engkau disana

Yang buatku kasmaran setiapnya

Buatku jatuh cinta sediakala

Dan sejak itu, aku tak perlu lagi berandai

Sebab ada engkau disana

Ada engkau disana

Ada engkau disana

* * * * * *

Aku tak perlu menjelaskan kenapa aku jatuh cinta. Ada banyak hasrat yang lahir ketika kita memulai untuk mencintai. Dan pada saat yang bersamaan, ada banyak pula ironi yang lindap. Aku sudah mengerti itu jauh-jauh hari. Tak ada lagi yang perlu diurai karenanya.

* * * * * *
(more…)

Juli 1, 2008

Manifesto Partai Komunis

Filed under: 1 — bulupantad @ 6:05 pm

Ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah menyatukan diri dalam suatu persekutuan keramat untuk mengusir hantu ini: Paus dan Tsar, Metternich [12] & Guizot [13], kaum Radikal Perancis [14] dan mata-mata polisi Jerman.

Di manakah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai Komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di manakah ada partai oposisi yang tidak melontarkan kembali cap tuduhan Komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih maju maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner?

Dua hal timbul dari kenyataan ini.

I. Komunisme telah diakui oleh semua kekuasaan di Eropa sebagai suatu kekuasaan pula.

II. Telah tiba waktunya bahwa kaum Komunis harus dengan terang-terangan terhadap seluruh dunia menyiarkan pandangan mereka, cita-cita mereka, tujuan mereka, aliran mereka,dan melawan dongengan kanak-kanak tentang Hantu Komunisme ini dengan sebuah manifesto dari partai sendiri.

Untuk maksud ini, kaum Komunis dari berbagai nasionalitet telah berkumpul di London, dan merencanakan manifesto berikut ini untuk diterbitkan dalam bahasa Inggeris, Perancis, Jerman, Italia, Vlam dan Denmark.
(more…)

Tentang Agama

Filed under: 1 — bulupantad @ 5:53 pm

Di negeri Jerman, kritik terhadap agama dalam garis besar sudah lengkap, dan kritik terhadap agama merupakan titik tolak untuk seluruh kritik … Manusia,yang telah mencari seorang dewa di angan-angan fantasi dan hanya menemukan pencerminan diri sendiri, tidak lagi akan bersedia untuk hanya mendapati pencerminan diri itu — cuma mendapati seorang non-manusia, di tempat dia sedang mencari dan harus mencari inti diri yang sejati.

Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran-diri dan harga-diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri. Namun manusia bukanlah suatu makhluk yang berkedudukan di luar dunia. Manusia itu adalah dunia umat manusia, negara, masyarakat. Negara ini, masyarakat ini menghasilkan agama, sebuah kesadaran-dunia yang terbalik, karena mereka sendiri merupakan sebuah dunia terbalik. Agama merupakan teori umum tentang dunia itu … Agama merealisasi inti manusia dengan cara fantastis karena inti manusia itu belum memiliki realitas yang nyata. Maka perjuangan melawan agama menjadi perjuangan melawan sebuah dunia nyata yang aroma jiwanya adalah agama tersebut.
(more…)

Juni 29, 2008

Would You Listen My Apologize?

Filed under: Menulis, itu saja — bulupantad @ 9:49 am
Tags:

Dedicated For Uti..

* * * *

Kawan, jika usia kelak meloncer kita sampai habis-habisan, jika tubuh seluruh, pehong lagi bengkok, hanya encok tinggal menentu kemudi, menyerah: sampai sini sajalah!

* * * *

Dinda, kalau memang ada kesamaan pada kita, ialah: kita tahu bagaimana menjadi pesakitan.

“Dinda”, itulah nama yang kurayakan dulu. Namamu yang kupahat ketika mata ini beradu. Kau datang dari ketiadaan, datang dari Antah Berantah, dari dalam lubuk hati yang sedang telenggas oleh jalangnya perempuan yang dulu ku kenal. Kau datang memetik telenggas itu. Membakarnya lamat-lamat, kau tanam lagi jiwaku dengan serumpun unduhan senyum.

330 hari kita pernah bersama. Bersama dalam ikatan yang sampai ini detik tak kunjung padam, bersama dalam luka yang sama-sama kelam. Kau mengajariku apa itu kepastian. Kepastian untuk memilih dan yakin, bahwa hidup tak lebih dari omong kosong. Cinta tak lebih dari guyonan cabul kelas kakap. Cinta adalah laku yang tak pernah berhenti bergulir.

Dinda, ada banyak keluhan dalam setiap berkah, pikirku. Dan aku paling sering mengeluh akan hal ini. Mengeluh tentang kenapa aku memilki orangtua yang ganjil, mengeluh kenapa dengan seenak jidad kau dapat bertukar-ganti HP, motor, dan–ini yang memuakkan–laptop. Mengeluh kenapa Tuhan hanya berguna kalau takdir menyapa. Aku tidak pernah memiliki kesempurnaanmu itu, aku tak pernah memiliki keberanian untuk percaya pada kenyataan. Begitu banyak keluhanku padamu. Tetapi kau hanya memelukku, menggigit kecil tanganku lagi dengan segudang tanda tanya: seakan dengan melakukannya, kau dapat memberikan apa yang kupikir kesempurnaan.

Begitu banyak fragmen yang kau gelar padaku untuk memamah betapa arti kehidupan sangatlah surealis.

Malam tadi, sempurna sudah dendam bertukar. Kau membakarku, persis ketika satu malam dimana aku menghantarkanmu ke gerbang tangis. Persis di satu malam, ketika aku menikammu dengan kepalsuan yang melata. Aku menerimanya ulang tadi malam darimu. Apa yang sarkastik tempo lalu, tangisan yang kau gelar dulu, nasib yang tak kau percayai itu, hadir kembali. Tadi malam. Ya, tadi malam.

Betapa kesedihan ternyata dapat lindap dalam setiap penyesalan, Dinda. Tak ada jalan menuntun kebenaran selain kenyataan. Dan kau lagi-lagi saja memelukku, menggigit lenganku, seakan dengan itu kau memberikanku sebiji kesimpulan yang selama ini ngumpet: Kita dapat mengulang masa lalu.

Dinda, hari ini aku makin mengerti untuk apa Gie berujar: “Hidup adalah soal keberanian, soal tanda tanya yang tidak pernah kita inginkan. Terimalah. Hadapilah.Ternyata ia benar: Keberanian menuntun orang untuk dapat menggelar hidup yang nyaris putus harap menjadi berkah.

Malam tadi di taman itu,entah keberapa kali, kau lagi-lagi saja memelukku, menghimpitku dengan ketiakmu, seraya menggigit kecil tanganku. Kali ini lebih keras, tentu saja.

Juni 18, 2008

Che, Berikut Realitas Yang Banal

Filed under: Itu saja, menulis — bulupantad @ 6:40 pm

Kawan tercinta:

Meskipun terlambat, saya tetap berusaha menyelesaikan catatan ini dalam rangkaian perjalanan saya ke Afrika, dengan harapan bisa memenuhi janji saya. Saya akan menuliskan tema yang dinyatakan oleh judul di atas. Saya kira, itu menarik bagi para pembac a di Uruguay.

Pendapat umum yang dilontarkan dari mulut juru bicara kaum kapitalis, dalam rangka perang ideologi menentang sosialisme, yakni bahwasanya sosialisme, atau periode pembangunan sosialisme seperti yang sedang kami laksanakan di Kuba ini, ditunjukkan oleh, penghapusan individu atas nama negara. Saya tidak akan berusaha menolak pendapat tersebut semata-mata berdasarkan argumen teoritik, melainkan dengan menunjukkan fakta-fakta sebagaimana adanya di kuba dan selanjutnya memberi tambahan komentar umum. Ijinkanlah sekarang saya memaparkan sejarah perjuangan revolusioner kami sebelum dan sesudah berhasil merebut kekuasaan. (more…)

Juni 8, 2008

Munarman Si Panglima

Filed under: Itu saja, menulis — bulupantad @ 11:33 am

“….Iya dengan segala cara kita akan lakukan. Siapa pun juga yang menghalang-halangi tegaknya syariat Islam. Bahwa kemarin itu baru permulaan, iya! Saya sedang menyiapakan perang jangka panjang. Fisik maupun mental, maupun pikiran semua level, semua fron kita sedang siapkan. Saya tahu soalnya data-datanya ya.

Siapa itu Goenawan Mohamad terima dana dari Yahudi. Iya saya punya, saya katakan itu belum seberapa. Akan ada yang lebih keras kalau tidak ada tindakan apa pun terhadap Ahmadiyah.”

MUNARMAN, KOMANDO LASKAR ISLAM

Pertanyaannya: “Ngopo toh, mas, mas.”

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.